Posted in Puisi, Puisi Jen Kelana

NARASI DIAM YANG ASING

Kedai yang setiap waktu menyala itu
mengisahkan selingkar meja perjamuan
simpang yang menjadi persinggahan
para pengelana
selalu menerbangkan gurun
segelas pahit kopi meramu ribuan mimpi
tentang hari-hari yang berguguran
dan angin mampat di tenggorokkan
sesak menyesap jiwa-jiwa

Kedai yang setiap waktu menyala itu
menyisakan nyeri yang paling sepi
sebab wangi kopi tak lagi menyelimuti
pertemuan yang telah menjadi tradisi
lesung selalu membawa tandus angin
memapah senja pada nyeri yang luka
butir demi butir terkelupas entah
menandai matahari segera membakarnya
gelisah mendesah jiwa-jiwa

Memunguti sisa-sisa waktu
tak terdengar lagi suara-suara
kedai lumer dalam diam yang asing

Imaji-Sungai Putih, Oktober 2016

Posted in Cerpen

Sukma

Hayatul Mughiroh

Entah dari mana, tiba-tiba aku berada dalam ruangan bercat putih bersih. Dan siapa yang menjerebabkanku ke penjara ini, aku juga tak tahu. Seperti orang siuman dari pingsan, tanpa tahu di mana tempatnya berada. Aku mencoba membuka memori dalam ingatanku, siapa tahu aku pernah menempati atau melewatinya. Akan tetapi hampir satu jam aku merenung, sepertinya ini tempat baru bagiku.

Tidak ada satupun benda yang tergeletak di ruangan bersih ini. Cat putih mengkilap seperti keramik yang tertata rapi menempel dinding tembok. Langit-langitnyapun tertutup eternit putih. Tak kulihat jaring laba laba di sudut ruangan. Tiap jarak satu meter dinding, ada pintu yang tertutup. Semuanya kuhitung genap dua puluh dua pintu, dan putih bersih.

Continue reading “Sukma”

Posted in Cerpen

Sang Titisan

Asro al Murthawy

O Sida kitan hanwa wari awai
    Sida kitan hanwa wari awai
    Sida kitan hanwa wari awai

Tiba-tiba ruang kamarku menjadi terang benderang. Dari belahan gorgen jendela sesosok tubuh sekonyong-konyong tercampak ke tengah ruangan. Seorang laki-laki. Tubuhnya lunglai. Wajahnya pias. Tatapan matanya membias ke seluruh penjuru ruangan menebarkan kecemasan, kegamangan dan ketakutan yang teramat sangat.

“Aku tak sanggup lagi! Aku tak kuat lagi. Aku ingin bebas dari kutuk ini!” Hening malam terusik gumamnya.

Aku bergidik. Bulu kuduku meramang. Hawa gaib merayap, mula-mula di leher bagian belakang, badan dan sekujur tubuhku.

Continue reading “Sang Titisan”