Posted in Umum

KERIS SEKIN MEDANGGIRI

KERIS SEKIN MEDANGGIRI

Desa Lubuk Mentulun geger. Desa terpencil itu baru saja akan menyelenggarakan pemilihan kepala desa. Segala keperluan , mulai dari kotak suara, bilik tempat menyoblos, sampai papan perhitungan suara telah disiapkan . Hampir seluruh warga desa telah lama berkumpul di rumah gedang, ketika tersiar kabar Tuk Thais, calon tunggal kepala desa Lubuk Mentulun meninggal.
“Tuk Thais mati?”
“Ya, baru saja Timan Sanot memberi kabar?”
“Sakit?”
“Tidak tahu….”
“Jangan-jangan terkena guna-guna.”
“Hush”
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun”
Orang-orangpun berlarin ke rumah Tuk Thais.Tak ada kecuali. Besar kecil, tua muda. Balai desa kembali sepi. Kursi-kursi berserakan ditinggal begitu saja. Pemilihan kepala desa batal.
Di rumah Tuk Thais,terlihat tubuh orang tua yang tinggi besar itu sudah terbaring kaku di ruang tengah, berselimutkan kain panjang berwarna coklat tua. Hanya bagian mukanya saja yang tak tertutup. Kelihatan pucat tanpa darah. Bibirnya yang membiru, masih menyisakan seulas senyum. Di sampingnya Nek Munot, istrinya, nampak terisak-isak bersama anak perempuannya.
Tak berapa lama rumah kayu yang besar itu telah dipenuhi orang. Semua penduduk Desa Lubuk Mentulun ingin menyaksikan jenazah orang yang amat mereka hormati itu.
“Tuk Thais bunuh diri…” terdengar bisikan, entah suara siapa.
“Hush, siapa bilang?”
“Nek Munot!”
“Bagaimana bisa?’ bisik-bisik itu kian jelas terdengar.
“Dengan keris itu.” Orang yang pertama kali berbsik , kembali terdengar suaranya.
“Hah? Keris Sekin Medanggiri?”
Kini perhatian orang yang hadir terpecah dua oleh suara-suara itu. Sebagian masih pada jenazah Tuk Thais, sebagian lagi beralih ke sudut ruangan. Di situ, diatas sebuah baki kecil, tergeletak sebilah keris luk Sembilan.Di ujungnya masih tersisa percikan darah. Darah Tuk Thais.
“Mengapa Tuk Thais bunuh diri?”
“Entahlah!”
“Barangkali bertengkar dengan istrinya.”
“Mungkin ada yang menginginkan kematian Tuk Thais.”
“Atau kena sumpah Sigindo Balak, pemilik keris ini dahulu”
“Hush!, Hati-hati kalau ngomong, bisa kena tulah.”
Suara-suara itu masih saja terus terdengar hingga sore hari setlah jenazah Tuk Thais dikuburkan. Bahkan sampai esok paginya, hari berikutnya hingga hari barikutnya lagi. Barangkali sampai kapanpun pertanyaan-pertanyaan itu akan terus terdengar. Penduduk desa kecil itu tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kalau saja mereka tahu, ya kalau saja mereka tahu…
Malam itu, Tuk Thais masih termenung di bilik dalam. Hari sudah larut. Udara pegunungan Desa Lubuk Mentelun yang dingin telah melelapkan sebagian penduduk. Bulan tinggal sepertiganya, bersinar pucat di langit sebelah barat. Sinarnya membias masuk lewat jendela kamar yang masih dibiarkan terbuka.
“Saya yakin Datuk masih dipercaya memimpin desa ini.” Kata-kata Guru Latif masih terngiang di telinga Tuk Thais malam itu. Ucapan itu memang benarlah adanya. Sudah tiga periode Tuk Thais menjabat Kepala Desa Lubuk Mentelun. Jika kali ini terpilih lagi, tentu inilah yang keempat kali dirinya memimpin desa terpencil di kaki gunung Masurai itu. Dan itu berarti baru ada dua kepala desa yang memimpin desa ini, sejak Lubuk Mentulun dinyatakan ada.
“Di tangan Datuk desa ini semakain tampak kemajuannya.Dan ini harus diteruskan. Saya kira belum ada seorangpun di desa ini yang pantas menduduki jabatan itu, selain Datuk.” Kali ini suara Sekdes Mirun yang melintas di telinga Tuk Thais.
Ya. Desa ini memang tambah maju. Ucapan Sekdes Mirun tidak salah. Duapuluh empat tahun bukanlah aktu yang singkat. Selama itulah dia pimpin desa Lubuk Mentelun untuk terus membangun. Hasilnya dapat disaksikan dan dinikmati seluruh penduduk. Jalan desa yang dulunya hanya pantas dilalui kerbau, kini telah dapat dilintasi kendaraan roda empat.Jembatan gantung telah diganti dengan jembatan beton yang lebih permanen. Balai desa dan madrasah dibangun. Anak-anak tak lagi mewarisi buta huruf orang tuanya. Penghasilan pendudukpun meningkat, lebih-lebih setelah diusahakannya colt angkutan umum dari desanya menuju kota kabupaten.
Keberhasilan ini membuat pnghormatan penduduk kepadanya bertambah. Bisa dipastikan jika berpapasan dengan warganya,teguran dan sapaan hormat akan dia terima. Belum lagi banyaknya hadiah yang dia terima. Tiap panen, tumpukan padi akan menggunung di bilik belakang rumah, dihantarkan warga dengan sukarela.Mengingat semua itu, Tuk Thais mengulum senyum.
Tapi, senyum itu langsung memudar manakala ada bayangan lain yang melintasi benaknya. Tuk Thais menghela nafas dalam-dalam mencoba menepis bayangan itu. Namun meski berkali-kali ditepis, bayangan itu kian membandel dan bertambah nyata. Lalu muncul bayangan-bayangan lain yang semakin membuat dada Tuk Thais sakit.
“Ini amanah, Is!” sebuah suara terdengar, yang kemudian dikenalinya sebagai suara Sigindo Balak, puluhan tahun lalu.
“Penduduk desa ini masih lugu.. Mudah kau atur. Kau bilang merah, merah pula kata mereka. Kau bilang hitampun mereka akan mengiyakannya.Terimalah Keris Sekin Medanggiri ini sebagai tanda peringatan bagimu. Berikan kepada penggantimu, kelak.”
Pengganti. Ya, pengganti inilah yang menggelisahkannya selama ini. Hingga tahun keduapuluh empat dirinya menjabat sebagai kepala desa, belum ada seorang pendudukpun yang dianggap mampu menggantkannya. Tuk Thais tak habis pikir. Pada setiap pemilihan kepala desa, selalu saja dia muncul sebagai calon tunggal. Calon-calon yang lain, hanyalah calon pendamping semata. Bahkan untuk pemilihan kali ini, tak ada seorangpun yang mau jadi calon pendamping, Cuma kotak kosonglah yang menjadi lawannya. Ya, siapakah yang takkan menang dengan sebuah kotak kosong?
“Mestinya kita sudah menyiapkan kader pengganti.” Kata Guru Busri, salah seorang sesepuh desa Lubuk Mentelun suatu waktu. Tuk Thais tak menjawab waktu itu, meski hatinya mengiyakannya. Penduduk desa ini telah menganggapnya mumpuni di segala hal sehingga yang lain dipandang tak mampu menggantikannya.
Demi mengingat semua itu, dada Tuk Thais kian menyesak. Dia mendesah berkali-kali. Hatinya berontak. Kesalahpahaman ini harus segera di akhiri. Tidak bisa tidak. Tapi bagaimana caranya? Dengan mengemukakan keburukan sepakterjangnya yang selama ini ditutupinya, adalah kurang bijak. Tak dapat dibayangkan, seandainya penduduk desa tahu bahwa apa yang dinikmatinya kini didapatkan dengan cara-cara yang kurang terpuji. Orang tuanya tak pernah meninggalkan warisan apa-apa. Rumah kayu besar ini, sawah dan kebun yang sedemikian luas, perhiasan-perhiasan istrinya, biaya sekolah anaknya, serta enam buah mobil yang dijadikan sebagai angkutan umum, semata-mata didapatkannya dari jabatannya sebagai kepala desa. Untuk mengingat satu demi satu bagaimana semua itu didapatkan, Tuk Thais takkan mampu apalagi jika mesti memperhitungkannya dengan seluruh penduduk desa ini. Tidak! Meski untuk kebaikan desa ini, cara itu takkan mungkin dilakukannya. Harga dirinya terlampau mahal untuk itu.
Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan menunjuk seorang pengganti. Tapi siapa? Sekdes Mirun, Guru Busri dan Lakun cucu mendiang Sigindo Balak muncul diingatannya. Tapi, apakah penduduk desa ini mau menerimanya?
Sekdes Mirun, meskipun sudah paham betul soal pemerintahan, warga desa kurang suka kepadanya. Jabatannya sebagai sekdes sekarangpun, sering disalahgunakan untuk kepentingan pribadi dan keluarganya. Sedangkan Guru Busri, banyak warga yang suka petuah-petuahnya. Pengetahuannya cukup luas baik kemasyarakatan maupun soal agama. Sayangnya, orangnya lamban dalam bersikap. Banyak pertimbangan dalam melangkah. Lagipula umurnya sudah tinggi, hampir sama dengan umur Tuk Thais, cuma selisih beberapa tahun.Akan halnya Lakun, semua penduduk mengenalnya sebagai orang yang luwes dalam bergaul. Orangnya ramah. Dan dibanding dengan Sekdes Mirun dan Guru Busri, Lakun lebih gesit dan tegas. Satu hal yang penduduk desa ini tak dapat menerima adalah hobinya mengadu ayam. Hampir tiap pecan Lakun terlihat menenteng ayam aduan mencari lawan.
“He-eh!” Tuk Thais lagi-lagi mendesah. Ganjalan di dadanya benar-benar telah melarutkan pikirannya dalam kekalutan yang teramat sangat. Benarkah tak seorang pendudukpun mampu menggantikanku? Ah, rasanya tak mungkin.
Datangnya pikiran itu membuat Tuk Thais tersentak. Suatu gagasan muncul dalam benaknya.Serta merta dia bangkit dari duduk. Dengan langkah pasti dihampirinyalah lemari di sudut kamar. Ditariknya laci paling bawah. Tangannya mencari-cari. Ketika barang yang dicarinya telah ditemukannya, wajah orang tua itu menegang. Sebilah keris Luk Sembilan, kini berada di tangannya.
“Dengan keris ini segalanya bisa kuatasi.” Gumamnya. Kepuasan terbayang di mukanya yang telah mengeriput. Tak lama kemudian, dikeluarkanlah benda itu dari sarungnya. Ditatapnya lekat-lekat.Sebuah senyum terulas di bibir.Tuk Thais semakin yakin apa yang akan dilakukannya nanti akan dapat menghilangkan sesuatu yang selama ini mengganjal dadanya.
Sejenak dia beranjak dari duduknya menuju pintu. Lalu tanpa suara dikatupkannya kedua daun pintu perlahan. Sengaja dibiarkannya tanpa terkunci. Jendela satu-satunya di ruangan itu ditutupnya rapat-rapat. Tampaknya Tuk Thais telah mantap dengan apa yang menjadi rencananya. Sesaat kemudian lampu padam.
Malam kelewat larut. Di luar sunyi. Penduduk Lubuk Mentulun benar-benar terlelap dalam tidurnya. Udara dingin. Langit sedikit mendung. Hanya satu dua bintang yang tampak menemani secuil rembulan yang hampir tenggelam di ufuk barat. Sinarnya yang pucat jatuh menimpa dedaun pisang membentuk bebayang hitam di tanah. Sesekali terdengar kokok ayam dari kejauhan. Perlahan, waktu terus berjalan.
Paginya, desa Lubuk Mentulun geger. (***)

Advertisements
Posted in Esay

OPTIMALISASI PERAN KOMITE SEKOLAH DI TINGKAT SEKOLAH DASAR

Oleh  Asro al Murthawy

Kelahiran komite sekolah merupakan amanat dari UU No.25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional dengan tujuan mewujudkan manajemen pendidikan yang berbasis sekolah dan masyarakat. Pembentukan komite sekolah semakin kuat aspek legalitasnya karena terwadahi dalam UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 56.

Komite Sekolah adalah badan yang dibentuk atas persetujuan sekolah dan masyarakat dalam hal ini orang tua siswa, merupakan badan mandiri yang mewadahi peran serta masyarakat dalam rangka meningkatkan mutu, pemerataan, dan efisiensi pengelolaan pendidikan di satuan pendidikan, baik pada pendidikan pra sekolah, jalur pendidikan sekolah maupun jalur pendidikan di luar sekolah.(Kepmendiknas nomor 044/U/20020) Continue reading “OPTIMALISASI PERAN KOMITE SEKOLAH DI TINGKAT SEKOLAH DASAR”

Posted in Berita

Dua Penyair Jambi Diundang Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia

Dua Penyair Jambi Diundang Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia

Asro al Murthawy dan Dimas Arika Mihardja, dua sastrawan asal Jambi, diundang menghadiri Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (MUNSI) II.

MUNSI II ini diselenggarakan di Hotel Mercure Ancol Jakarta, pada 19-21 Juli 2017 mendatang.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa melalui surat pengumuman nomor 5691/63.1/BS/2017, yang ditanda tangani langsung oleh Kepala Pusat Pembinaan, Prof. Dr. Gufran Ali Ibrahim,M.S. mengumumkan hasil seleksi buku calon peserta MUNSI II. Continue reading “Dua Penyair Jambi Diundang Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia”