Posted in Cerpen

KERIS SEKIN MEDANGGIRI

KERIS SEKIN MEDANGGIRI

Desa Lubuk Mentulun geger. Desa terpencil itu baru saja akan menyelenggarakan pemilihan kepala desa. Segala keperluan , mulai dari kotak suara, bilik tempat menyoblos, sampai papan perhitungan suara telah disiapkan . Hampir seluruh warga desa telah lama berkumpul di rumah gedang, ketika tersiar kabar Tuk Thais, calon tunggal kepala desa Lubuk Mentulun meninggal.
“Tuk Thais mati?”
“Ya, baru saja Timan Sanot memberi kabar?”
“Sakit?”
“Tidak tahu….”
“Jangan-jangan terkena guna-guna.”
“Hush”
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun” Continue reading “KERIS SEKIN MEDANGGIRI”

Advertisements
Posted in Cerpen

LEMANG DAN KEMATIAN

Oleh Asro al Murthawy

Akulah Tiang Bungkuk. Kematian bagiku adalah keniscayaan. Aku tak pernah sangsi dengan mati.Dalam hidupku, karena satu dan lain musabab telah  berkali-kali aku berhadapan dengan maut,namun  berkali pula aku terselamatkan darinya. Aku yakin, jika Tuhan belum berkehendak, sang ajal takkan mampu menbawa nyawaku pergi,

Aku pernah sangat dekat dengan maut. Yah, dekat sekali malah. Semua gara-gara baju sialan ini. Baju kebesaran kerajaan, yang terbuat dari sutera dan bersulamkan benang emas, sehingga menyilaukan mataku saat memandangnya.

Saat itu, kami telah bersiap perang, mengasah tombak, meruncing anak panah ketika utusan itu datang untuk kesekian kalinya.

“Berapa orang lagi dubalang yang mau tewas, berapa jenang lagi yang mau kalian korbankan?”.  Teriakku lantang. Memang dalam beberapa kali penyerangan mereka, tak sekalipun mereka menang. Continue reading “LEMANG DAN KEMATIAN”

Posted in Cerpen

Sukma

Hayatul Mughiroh

Entah dari mana, tiba-tiba aku berada dalam ruangan bercat putih bersih. Dan siapa yang menjerebabkanku ke penjara ini, aku juga tak tahu. Seperti orang siuman dari pingsan, tanpa tahu di mana tempatnya berada. Aku mencoba membuka memori dalam ingatanku, siapa tahu aku pernah menempati atau melewatinya. Akan tetapi hampir satu jam aku merenung, sepertinya ini tempat baru bagiku.

Tidak ada satupun benda yang tergeletak di ruangan bersih ini. Cat putih mengkilap seperti keramik yang tertata rapi menempel dinding tembok. Langit-langitnyapun tertutup eternit putih. Tak kulihat jaring laba laba di sudut ruangan. Tiap jarak satu meter dinding, ada pintu yang tertutup. Semuanya kuhitung genap dua puluh dua pintu, dan putih bersih.

Continue reading “Sukma”