Posted in Cerpen

LEMANG DAN KEMATIAN

Oleh Asro al Murthawy

Akulah Tiang Bungkuk. Kematian bagiku adalah keniscayaan. Aku tak pernah sangsi dengan mati.Dalam hidupku, karena satu dan lain musabab telah  berkali-kali aku berhadapan dengan maut,namun  berkali pula aku terselamatkan darinya. Aku yakin, jika Tuhan belum berkehendak, sang ajal takkan mampu menbawa nyawaku pergi,

Aku pernah sangat dekat dengan maut. Yah, dekat sekali malah. Semua gara-gara baju sialan ini. Baju kebesaran kerajaan, yang terbuat dari sutera dan bersulamkan benang emas, sehingga menyilaukan mataku saat memandangnya.

Saat itu, kami telah bersiap perang, mengasah tombak, meruncing anak panah ketika utusan itu datang untuk kesekian kalinya.

“Berapa orang lagi dubalang yang mau tewas, berapa jenang lagi yang mau kalian korbankan?”.  Teriakku lantang. Memang dalam beberapa kali penyerangan mereka, tak sekalipun mereka menang. Continue reading “LEMANG DAN KEMATIAN”

Advertisements
Posted in Cerpen

Sukma

Hayatul Mughiroh

Entah dari mana, tiba-tiba aku berada dalam ruangan bercat putih bersih. Dan siapa yang menjerebabkanku ke penjara ini, aku juga tak tahu. Seperti orang siuman dari pingsan, tanpa tahu di mana tempatnya berada. Aku mencoba membuka memori dalam ingatanku, siapa tahu aku pernah menempati atau melewatinya. Akan tetapi hampir satu jam aku merenung, sepertinya ini tempat baru bagiku.

Tidak ada satupun benda yang tergeletak di ruangan bersih ini. Cat putih mengkilap seperti keramik yang tertata rapi menempel dinding tembok. Langit-langitnyapun tertutup eternit putih. Tak kulihat jaring laba laba di sudut ruangan. Tiap jarak satu meter dinding, ada pintu yang tertutup. Semuanya kuhitung genap dua puluh dua pintu, dan putih bersih.

Continue reading “Sukma”

Posted in Cerpen

Sang Titisan

Asro al Murthawy

O Sida kitan hanwa wari awai
    Sida kitan hanwa wari awai
    Sida kitan hanwa wari awai

Tiba-tiba ruang kamarku menjadi terang benderang. Dari belahan gorgen jendela sesosok tubuh sekonyong-konyong tercampak ke tengah ruangan. Seorang laki-laki. Tubuhnya lunglai. Wajahnya pias. Tatapan matanya membias ke seluruh penjuru ruangan menebarkan kecemasan, kegamangan dan ketakutan yang teramat sangat.

“Aku tak sanggup lagi! Aku tak kuat lagi. Aku ingin bebas dari kutuk ini!” Hening malam terusik gumamnya.

Aku bergidik. Bulu kuduku meramang. Hawa gaib merayap, mula-mula di leher bagian belakang, badan dan sekujur tubuhku.

Continue reading “Sang Titisan”