Posted in Puisi, Puisi Asro al Murthawy

DI KOTAKU KEMARAU MENJELMA HANTU-HANTU

Siang ini kotaku meranggas
pucuk-pucuk perdu menjelma debu
tetunas umbut berasap
tetunas rumput mengelabu
entah siapa membakar ambisi
di dada amarah dan ngilu menyesak-nyesak
tensi darah meninggi menghentak-hentak
menggapai-gapai nafas s a t u – s a t u

Siang ini kotaku jadi gurun
pohonan dan gedung rata dalam pandang
datar gelap berbalut kabut
aku tak mengenali sesiapa
di leher tangan-tangan gaib mencekik-cekik
dari dalam dan luar raga
dari dalam dan luar jiwa
aku serasa dituba
“Nyanyikan lagu Tuhan!  nyanyikan lagu Tuhan!…”
Entah suara siapa memekik di kerontang jalan
Dan kita sibuk mencari-cari ayat pertobatan
tapi, bukankah kita telah lama lupa cara mendoa?
Di kotaku kemarau telah menjelma hatu-hantu

Imaji 1438 H

Advertisements
Posted in Puisi, Puisi Jen Kelana

NARASI DIAM YANG ASING

Kedai yang setiap waktu menyala itu
mengisahkan selingkar meja perjamuan
simpang yang menjadi persinggahan
para pengelana
selalu menerbangkan gurun
segelas pahit kopi meramu ribuan mimpi
tentang hari-hari yang berguguran
dan angin mampat di tenggorokkan
sesak menyesap jiwa-jiwa

Kedai yang setiap waktu menyala itu
menyisakan nyeri yang paling sepi
sebab wangi kopi tak lagi menyelimuti
pertemuan yang telah menjadi tradisi
lesung selalu membawa tandus angin
memapah senja pada nyeri yang luka
butir demi butir terkelupas entah
menandai matahari segera membakarnya
gelisah mendesah jiwa-jiwa

Memunguti sisa-sisa waktu
tak terdengar lagi suara-suara
kedai lumer dalam diam yang asing

Imaji-Sungai Putih, Oktober 2016

Posted in Puisi, Puisi Jen Kelana

Rinexit: Malam Pualam

Sajak-sajak: Jen Kelana

Kuhapus sisa-sisa hujan di wajahmu
yang tak pernah lagi basah setelah senja itu
sebab kemarau setia memainkan gairah
merapah palung diam yang paling kelam
lantas kau mengabarkan sunyi
hening menghunjam dingin
aku terbata dalam tafsir sepi
sebenar-benar luka

Kauhapus remah-remah hibat di kalbuku
yang kusemai hingga malam mengabut
lantaran riwayat yang sempat jadi harap
mengusik relung pengembaraan
kemudian kau peluk langit
hangat di ujung lain
kau renda suka dalam tafsir gempita
sebenar-benar gelora

Malam-malam mempualam
menggulung rindu yang paling kuyu
aku kau memadu bisu

Imaji, 14 Juli 2016. 07:31