Posted in Berita

Naskah Pangeran Sutan Galumat Akan Dibukukan

Naskah bahan bacaan “Pangeran Sutan Galumat” dan “Lubuk Lumbun” yang menjadi pemenang Sayembara Penulisan Bahan Bacaan Gerak Literasi Nasional 2017 tingkat Provinsi Jambi, akan diterbitkan dalam bentuk buku.

“Kedua naskah itu menjadi pemenang sayembara, dan Balai Bahasa Jambi akan menerbitkan dalam bentuk buku bacaan yang nantinya akan didistribusikan kepada sekolah SD dan MI di Jambi,” kata Kepala Balai Bahasa Jambi Saiful Bahri Lubis didampingi Ketua Panitia Penyelenggara Rahmadhina di Jambi, Kamis.

Naskah Pangeran Sutan Galumat merupakan karya penulis Asro Almuthawy sedangkan naskah Lubuk Lumbun merupakan karya penulis Rini Febriai Hauri. Keduanya tampil sebagai naskah terbaik dan berhak atas piagam penghargaan serta uang masing-masing Rp7,5 juta. Continue reading “Naskah Pangeran Sutan Galumat Akan Dibukukan”

Advertisements
Posted in Puisi, Puisi Asro al Murthawy

DI KOTAKU KEMARAU MENJELMA HANTU-HANTU

Siang ini kotaku meranggas
pucuk-pucuk perdu menjelma debu
tetunas umbut berasap
tetunas rumput mengelabu
entah siapa membakar ambisi
di dada amarah dan ngilu menyesak-nyesak
tensi darah meninggi menghentak-hentak
menggapai-gapai nafas s a t u – s a t u

Siang ini kotaku jadi gurun
pohonan dan gedung rata dalam pandang
datar gelap berbalut kabut
aku tak mengenali sesiapa
di leher tangan-tangan gaib mencekik-cekik
dari dalam dan luar raga
dari dalam dan luar jiwa
aku serasa dituba
“Nyanyikan lagu Tuhan!  nyanyikan lagu Tuhan!…”
Entah suara siapa memekik di kerontang jalan
Dan kita sibuk mencari-cari ayat pertobatan
tapi, bukankah kita telah lama lupa cara mendoa?
Di kotaku kemarau telah menjelma hatu-hantu

Imaji 1438 H

Posted in Cerpen

LEMANG DAN KEMATIAN

Oleh Asro al Murthawy

Akulah Tiang Bungkuk. Kematian bagiku adalah keniscayaan. Aku tak pernah sangsi dengan mati.Dalam hidupku, karena satu dan lain musabab telah  berkali-kali aku berhadapan dengan maut,namun  berkali pula aku terselamatkan darinya. Aku yakin, jika Tuhan belum berkehendak, sang ajal takkan mampu menbawa nyawaku pergi,

Aku pernah sangat dekat dengan maut. Yah, dekat sekali malah. Semua gara-gara baju sialan ini. Baju kebesaran kerajaan, yang terbuat dari sutera dan bersulamkan benang emas, sehingga menyilaukan mataku saat memandangnya.

Saat itu, kami telah bersiap perang, mengasah tombak, meruncing anak panah ketika utusan itu datang untuk kesekian kalinya.

“Berapa orang lagi dubalang yang mau tewas, berapa jenang lagi yang mau kalian korbankan?”.  Teriakku lantang. Memang dalam beberapa kali penyerangan mereka, tak sekalipun mereka menang. Continue reading “LEMANG DAN KEMATIAN”